Rabu, 23 November 2016

PERBEDAAN MOTIVASI LANSIA SEBELUM DAN SESUDAH DI BERIKAN PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG MANFAAT POSYANDU LANSIA DI DESA JATIJAJAR KABUPATEN SEMARANG



PERBEDAAN MOTIVASI LANSIA SEBELUM DAN SESUDAH DI BERIKAN PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG MANFAAT POSYANDU LANSIA DI DESA JATIJAJAR KABUPATEN SEMARANG

Anggihsyah putra
Jurusan penelitian dan evaluasi pendidik, pasca sarjana
Universitas Negeri Semarang
Gedung D7 Lt.2 Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, Indonesia 50229
e-mail: enggo_e@yahoo.com; Tlp: +62856 2999 497


ABSTRAK
       Usia harapan hidup dan jumlah lansia mengalami peningkatan 22,5% setiap tahun. Posyandu lansia hanya ramai pada awal pendirian saja, lansia yang memanfaatkan posyandu semakin berkurang. Penyelenggaraan posyandu lansia tidak lepas dari kendala-kendala yang menghambat pelayanan kesehatan kepada lansia. Faktor yang menjadi kendala adalah motivasi lansia. Pendidikan kesehatan tentang manfaat posyandu sangat penting untuk meningkatkan motivasi lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan motivasi lansia sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan tentang manfaat posyandu.
     Penelitian ini menggunakan jenis penelitian pre eksperimental dengan rancangan one grup pre test-post test. Penelitian ini menggunakan kuesioner. Sampel penelitian ini meliputi 89 lansia di Desa Jatijajar dengan menggunakan simple random sampling. Analisa data yang digunakan adalah analisa bivariat Wilcoxon.
      Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai signifikan p value 0,001 ≤ α (0,05) maka Ha diterima dan Ho ditolak. Dapat diketauhi bahwa terdapat perbedaan motivasi  lansia sebelum dan sesudah di berikan pendidikan kesehatan tentang manfaat posyandu lansia.

Kata kunci :           Pendidikan Kesehatan , Manfaat Posyandu Lansia, Motivasi.

A.    PENDAHULUAN
Peningkatan usia harapan hidup penduduk merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan suatu negara. Namun demikian, kondisi tersebut akan diikuti oleh peningkatan jumlah penduduk lanjut usia atau lansia dengan berbagai permasalahannya (Laksono, 2012). World Health Organization (WHO) mencatat bahwa terdapat 600 juta jiwa lansia pada tahun 2012 di seluruh dunia. WHO juga mencatat terdapat 142 juta jiwa lansia di wilayah regional Asia Tenggara. Sedangkan menurut Badan Pusat Statistik (BPS), tercatat jumlah lansia Indonesia mencapai jumlah 28 juta jiwa pada tahun 2012 dari yang hanya 19 juta jiwa pada tahun 2006. Hasil rekapitulasi data Dinas Kesehatan Jawa tengah mencatat 3 juta jiwa lansia terdapat di Jawa tengah. Angka ini menunjukkan peningkatan jumlah lansia sebesar 22,5% dari 2.323.541 pada tahun 2010 (Dinas Kesehatan Jawa Tengah, 2012).
1
 
1
 
Peningkatan jumlah lansia tersebut, diakibatkan karena kemajuan dan peningkatan ekonomi masyarakat, perbaikan lingkungan hidup dan majunya ilmu pengetahuan, terutama karena kemajuan ilmu kedokteran dan kesehatan, sehingga mampu meningkatkan usia harapan hidup (life expectancy). BKKBN (2012), menyatakan bahwa usia harapan hidup penduduk Indonesia pada tahun 1980 hanya 52,2 tahun. Pada tahun 1990, meningkat menjadi 59,8 tahun, tahun 1995 berkisar pada 63,6 tahun, tahun 2000 mencapai 64,5 tahun, tahun 2010 berada pada 67,4 tahun, dan tahun 2020 diperkirakan mencapai 71,1 tahun. BKKBN (2012), menyatakan bahwa bertambahnya jumlah penduduk dan usia harapan hidup lansia akan menimbulkan berbagai masalah antara lain masalah kesehatan, psikologis, dan sosial ekonomi.
Penggolongan lansia menurut Depkes RI (2007), kriteria lansia dibagi menjadi :  lanjut usia (55    64 tahun) sebagai presenium, lanjut usia (>65 tahun) sebagai masa senium.  Penelitian yang pernah dilakukan di Amerika menyatakan bahwa 11% laki-laki dan 18% wanita pada lansia mengalami sindrom depresi.  Selain kemunduran fisik, sering kali munculnya depresi pada lansia terjadi karena kurangnya perhatian keluarga terutama anak, dan orang-orang terdekat. Salah satunya adalah masalah dukungan sosial, terutama dukungan dari orang-orang terdekatnya.
Peran dari berbagai pihak sangat diperlukan untuk lansia. Disamping keluarga, pemerintah juga perlu memberikan intervensi untuk membantu lansia tetap mempunyai kondisi fisik dan mental yang prima. Pemerintah dalam pembinaaan kesehatan lansia perlu tetap melibatkan berbagai sektor baik Depkes, Depsos, organisasi profesi ataupun lembaga swadaya masyarakat serta lintas program terkait (Depkes RI, 2007) yang secara teknis dilaksanakan melalui pembinaan ketenagaan, berupa peningkatan kemampuan teknis dan manajemen bagi para pengelola dan pelaksana termasuk kader kesehatan. Hal ini menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan usia lanjut melalui kegiatan yang diadakan di posyandu lansia.
Posyandu diselenggarakan terutama untuk melayani balita (baik imunisasi maupun penimbangan berat badan) dan dan lansia (posyandu lansia). Posyandu di canangkan pada tahun 1986, lahir melalui surat keputusan bersama antara menteri dalam negeri RI, menteri kesehatan RI, dan kepala badan koordinasi keluarga berencana nasional (BKKBN) (Ismawati, 2010).




B.     METODE
Desain Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pre eksperimental  dengan rancangan one group pre test-post test design, yaitu penelitian sesaat dengan pemberian pre test dahulu sebelum diberikan pendidikan kesehatan kemudian setelah diberi pendidikan kesehatan dilakukan post test untuk menguji perbedaan motivasi lansia mengikuti kegiatan posyandu lansia sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan. Adapun bentuk rancangan ini adalah sebagai berikut :
01                       X                              02
 
                  Pretest             Perlakuan                  Posttest

Dalam desain ini observasi dilakukan sebanyak dua kali yaitu sebelum eksperimen dan sesudah eksperimen. Observasi yang dilakukan sebelum (01) disebut pre test dan observasi sesudah eksperimen (02) disebut post test. Post test yang akan di ukur adalah motivasi lansia. Perbedaan antara 01 dan 02 merupakan akibat dari treatment atau eksperimen (Arikunto, 2006).
Angket atau kuesioner merupakan instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner motivasi lansia yang berjumlah 17 pertanyaan berdasarkan indikator motivasi. Dimana kuesioner menggunakan skala likert. 

C.    Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan menunjukan bahwa motivasi lansia mengikuti kegiatan posyandu sebelum diberikan pendidikan kesehatan adalah sebagian besar masih dalam kategori motivasi rendah (53,9%). Motivasi rendah tersebut ditunjukan dimana responden banyak menjawab pertanyaan obyektif antara lain : 50 responden (56,1%) menjawab tidak akan mengikuti kegiatan posyandu lagi, jika sudah datang sekali ke posyandu dan mengatakan tidak akan mengikuti posyandu karena sebelumnya tidak pernah mengikuti posyandu, pernyataan tersebut menunjukan bahwa lansia memiliki kendala dalam mengikuti kegiatan posyandu. Menurut Ismawati (2010), faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi lansia mengikuti kegiatan posyandu adalah pengetahuan tentang manfaat posyandu, jarak rumah dengan lokasi posyandu, kurangnya dukungan keluarga untuk mengantar atau mengingatkan lansia untuk datang ke posyandu, sikap yang kurang baik terhadap petugas posyandu, serta sarana dan prasarana penunjang pelaksanaan posyandu.
a.      Analisis Univariat
1.       Gambaran motivasi lansia sebelum diberikan pendidikan kesehatan tentang manfaat posyandu lansia di Desa Jatijajar Kabupaten Semarang.
Tabel 5.1  Distribusi frekuensi motivasi lansia sebelum di berikan pendidikan kesehatan tentang manfaat posyandu lansia di Desa Jatijajar Kabupaten Semarang.
Motivasi Pretest
Frekuensi
Persentase (%)
Rendah
48
53,9
Sedang
19
21,3
Tinggi
22
24,7
Total
89
100,0

Hasil analisis dari Tabel 5.1 dapat dilihat bahwa motivasi responden sebelum diberikan pendidikan kesehatan adalah sebanyak 48 (53,9%) lansia dalam kategori motivasi rendah, sebanyak 19 (21,3%) lansia berada pada kategori motivasi sedang dan 22 (24,7%) lansia berada pada kategori motivasi tinggi.
2.       Gambaran motivasi lansia sesudah diberikan pendidikan kesehatan tentang manfaat posyandu lansia di Desa Jatijajar Kabupaten Semarang.
Tabel 5.2 Disrtibusi frekuensi motivasi lansia sesudah di berikan pendidikan kesehatan tentang manfaat posyandu lansia di Desa Jatijajar Kabupaten Semarang.
Motivasi Posttest
Frekuensi
Persentase (%)
Rendah
10
11,2
Sedang
54
60,7
Tinggi
25
28,1
Total
89
100,0

Hasil analisis dari Tabel 5.2 dapat dilihat bahwa motivasi responden sesudah diberikan pendidikan kesehatan adalah sebanyak 25 (28,1%) lansia dalam kategori tinggi, sebanyak 54 (60,7%) lansia dalam kategori sedang dan yang masih berada pada kategori rendah sebanyak 10  (11,2%) lansia.
b.      Analisis Bivariat
Data yang dihasilkan digunakan uji statistik dengan menggunakan wilcoxon test diperoleh hasil sebagai berikut.
Tabel 5.3      Perbedaan motivasi lansia sebelum dan sesudah di berikan pendidikan kesehatan tentang manfaat posyandu lansia di Desa Jatijajar Kabupaten Semarang.

Variabel
N
Mean Rank
Z
p value
Motivasi Pretest -
Motivasi Posttest
89
89
22,15
20,00

-5,508
0,000

Hasil analisis data dari Tabel 5.3 menunjukan bahwa p value = 0,000≤α = 0,05, maka Ha diterima dan Ho ditolak, ada perbedaan yang signifikan antara motivasi lansia sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan tentang manfaat posyandu lansia di Desa Jatijajar Kabupaten Semarang.


D.    Kesimpulan dan saran
Motivasi lansia sebelum diberikan pendidikan kesehatan dalam kategori rendah, yaitu sejumlah 48 responden (53,9%),  19 responden dalam kategori sedang (21,3%) dan kategori tinggi sebanyak 22 responden (24,7%), pada dasarnya lansia sesudah diberikan pendidikan kesehatan dalam kategori tinggi, yaitu sejumlah 25 responden (28,1%), 54 responden mempunyai motivasi dalam kategori sedang (60,7%) dan  responden dengan kategori rendah sebanyak 10 (11,2%)

 
 dan perbedaan motivasi lansia sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan tentang manfaat posyandu lansia dengan nilai p = 0,000 < α (0,05).

 
Hendaknya pihak institusi ikut berperan serta di dalam memasyarakkan program posyandu lansia melalui kegiatan pengabdisan  masyarakat dengan kegiatan pendidikan kesehatan kepada masyarakat pada umumnya dan  lansia khususnya mengenai manfaat posyandu lansia, dan tenaga kesehatan dalam memberikan pendidikan kesehatan dilakukan secara periodik untuk meningkatkan motivasi lansia mengikuti kegiatan posyandu,

E.     Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada ketua RT Desa Jatijajar Kabupaten Semarang. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga Desa Jatijajar Kabupaten Semarang atas dukungannya pada penelitian ini.


DAFTAR PUSTAKA
1.     


Tidak ada komentar:

Posting Komentar