PERBEDAAN MOTIVASI LANSIA SEBELUM DAN SESUDAH DI BERIKAN
PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG MANFAAT POSYANDU LANSIA DI DESA JATIJAJAR KABUPATEN SEMARANG
Anggihsyah putra
Jurusan penelitian dan
evaluasi pendidik, pasca sarjana
Universitas Negeri
Semarang
Gedung D7 Lt.2 Kampus Sekaran,
Gunungpati, Semarang, Indonesia 50229
ABSTRAK
Usia
harapan hidup dan jumlah lansia mengalami peningkatan 22,5% setiap tahun.
Posyandu lansia hanya ramai pada awal pendirian saja, lansia yang memanfaatkan
posyandu semakin berkurang. Penyelenggaraan posyandu lansia tidak lepas dari
kendala-kendala yang menghambat pelayanan kesehatan kepada lansia. Faktor yang
menjadi kendala adalah motivasi lansia. Pendidikan kesehatan tentang manfaat
posyandu sangat penting untuk meningkatkan motivasi lansia. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui perbedaan motivasi lansia sebelum dan sesudah
diberikan pendidikan kesehatan tentang manfaat posyandu.
Penelitian
ini menggunakan jenis penelitian pre eksperimental
dengan rancangan one grup pre
test-post test. Penelitian ini menggunakan kuesioner. Sampel
penelitian ini meliputi 89 lansia di Desa Jatijajar dengan menggunakan simple random sampling. Analisa data
yang digunakan adalah analisa bivariat Wilcoxon.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai signifikan p value 0,001 ≤ α
(0,05) maka Ha diterima dan Ho ditolak. Dapat diketauhi bahwa terdapat perbedaan motivasi lansia sebelum dan sesudah di berikan
pendidikan kesehatan tentang manfaat posyandu lansia.
Kata kunci : Pendidikan
Kesehatan , Manfaat Posyandu Lansia, Motivasi.
A.
PENDAHULUAN
Peningkatan
usia harapan hidup penduduk merupakan salah satu indikator keberhasilan
pembangunan suatu negara. Namun demikian, kondisi tersebut akan diikuti oleh
peningkatan jumlah penduduk lanjut usia atau lansia dengan berbagai
permasalahannya (Laksono, 2012).
World Health Organization (WHO)
mencatat bahwa terdapat 600 juta jiwa lansia pada tahun 2012 di seluruh dunia.
WHO juga mencatat terdapat 142 juta jiwa lansia di wilayah regional Asia
Tenggara. Sedangkan menurut Badan Pusat Statistik (BPS), tercatat jumlah lansia
Indonesia mencapai jumlah 28 juta jiwa pada tahun 2012 dari yang hanya 19 juta
jiwa pada tahun 2006. Hasil rekapitulasi data Dinas Kesehatan Jawa tengah
mencatat 3 juta jiwa lansia terdapat di Jawa tengah. Angka ini menunjukkan
peningkatan jumlah lansia sebesar 22,5% dari 2.323.541 pada tahun 2010 (Dinas
Kesehatan Jawa Tengah, 2012).
|
|
Penggolongan
lansia menurut Depkes RI (2007), kriteria lansia dibagi menjadi : lanjut usia (55 – 64
tahun) sebagai presenium, lanjut usia (>65 tahun) sebagai masa senium. Penelitian yang pernah dilakukan di Amerika
menyatakan bahwa 11% laki-laki dan 18% wanita pada lansia mengalami sindrom
depresi. Selain kemunduran fisik, sering
kali munculnya depresi pada lansia terjadi karena kurangnya perhatian keluarga
terutama anak, dan orang-orang terdekat. Salah satunya adalah masalah dukungan
sosial, terutama dukungan dari orang-orang terdekatnya.
Peran dari
berbagai pihak sangat diperlukan untuk lansia. Disamping keluarga, pemerintah
juga perlu memberikan intervensi untuk membantu lansia tetap mempunyai kondisi
fisik dan mental yang prima. Pemerintah dalam pembinaaan kesehatan lansia perlu
tetap melibatkan berbagai sektor baik Depkes, Depsos, organisasi profesi
ataupun lembaga swadaya masyarakat serta lintas program terkait (Depkes RI,
2007) yang secara teknis dilaksanakan melalui pembinaan ketenagaan, berupa
peningkatan kemampuan teknis dan manajemen bagi para pengelola dan pelaksana
termasuk kader kesehatan. Hal ini menjadi salah satu strategi untuk
meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan usia lanjut melalui kegiatan yang
diadakan di posyandu lansia.
Posyandu
diselenggarakan terutama untuk melayani balita (baik imunisasi maupun
penimbangan berat badan) dan dan lansia (posyandu lansia). Posyandu di
canangkan pada tahun 1986, lahir melalui surat keputusan bersama antara menteri
dalam negeri RI, menteri kesehatan RI, dan kepala badan koordinasi keluarga
berencana nasional (BKKBN) (Ismawati, 2010).
B.
METODE
Desain
Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pre eksperimental dengan rancangan one group pre test-post
test design, yaitu penelitian sesaat dengan pemberian pre test dahulu
sebelum diberikan pendidikan kesehatan kemudian setelah diberi pendidikan
kesehatan dilakukan post test untuk menguji perbedaan motivasi lansia mengikuti
kegiatan posyandu lansia sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan.
Adapun bentuk rancangan ini adalah sebagai berikut :
|
Dalam
desain ini observasi dilakukan sebanyak dua kali yaitu
sebelum eksperimen dan sesudah eksperimen. Observasi yang dilakukan sebelum
(01) disebut pre test dan observasi sesudah eksperimen (02) disebut post test. Post test yang akan di ukur adalah motivasi lansia. Perbedaan antara 01 dan 02 merupakan akibat dari treatment
atau eksperimen (Arikunto, 2006).
Angket atau kuesioner merupakan instrumen
yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner motivasi lansia yang
berjumlah 17 pertanyaan berdasarkan indikator motivasi. Dimana kuesioner
menggunakan skala likert.
C.
Hasil
dan Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan
menunjukan bahwa motivasi lansia mengikuti kegiatan posyandu sebelum diberikan
pendidikan kesehatan adalah sebagian besar masih dalam kategori motivasi rendah
(53,9%). Motivasi rendah tersebut ditunjukan dimana responden banyak menjawab
pertanyaan obyektif antara lain : 50 responden (56,1%) menjawab tidak akan
mengikuti kegiatan posyandu lagi, jika sudah datang sekali ke posyandu dan
mengatakan tidak akan mengikuti posyandu karena sebelumnya tidak pernah
mengikuti posyandu, pernyataan tersebut menunjukan bahwa lansia memiliki
kendala dalam mengikuti kegiatan posyandu. Menurut Ismawati (2010), faktor-faktor
yang mempengaruhi motivasi lansia mengikuti kegiatan posyandu adalah
pengetahuan tentang manfaat posyandu, jarak rumah dengan lokasi posyandu,
kurangnya dukungan keluarga untuk mengantar atau mengingatkan lansia untuk datang
ke posyandu, sikap yang kurang baik terhadap petugas posyandu, serta sarana dan
prasarana penunjang pelaksanaan posyandu.
a. Analisis Univariat
1.
Gambaran motivasi lansia sebelum diberikan pendidikan kesehatan tentang
manfaat posyandu lansia di Desa Jatijajar Kabupaten Semarang.
Tabel 5.1 Distribusi frekuensi motivasi lansia sebelum
di berikan pendidikan kesehatan tentang manfaat posyandu lansia di Desa
Jatijajar Kabupaten Semarang.
Motivasi
Pretest
|
Frekuensi
|
Persentase (%)
|
Rendah
|
48
|
53,9
|
Sedang
|
19
|
21,3
|
Tinggi
|
22
|
24,7
|
Total
|
89
|
100,0
|
Hasil analisis dari Tabel 5.1 dapat dilihat bahwa
motivasi responden sebelum diberikan pendidikan kesehatan adalah sebanyak 48
(53,9%) lansia dalam kategori motivasi rendah, sebanyak 19 (21,3%) lansia
berada pada kategori motivasi sedang dan 22 (24,7%) lansia berada pada kategori
motivasi tinggi.
2. Gambaran motivasi lansia
sesudah diberikan pendidikan kesehatan tentang manfaat posyandu lansia di Desa
Jatijajar Kabupaten Semarang.
Tabel 5.2 Disrtibusi frekuensi motivasi lansia sesudah di berikan pendidikan
kesehatan tentang manfaat posyandu lansia di Desa Jatijajar Kabupaten Semarang.
Motivasi
Posttest
|
Frekuensi
|
Persentase (%)
|
Rendah
|
10
|
11,2
|
Sedang
|
54
|
60,7
|
Tinggi
|
25
|
28,1
|
Total
|
89
|
100,0
|
Hasil analisis dari Tabel 5.2 dapat dilihat bahwa
motivasi responden sesudah diberikan pendidikan kesehatan adalah sebanyak 25
(28,1%) lansia dalam kategori tinggi, sebanyak 54 (60,7%) lansia dalam kategori
sedang dan yang masih berada pada kategori rendah sebanyak 10 (11,2%) lansia.
b.
Analisis Bivariat
Data yang dihasilkan digunakan uji statistik
dengan menggunakan wilcoxon test diperoleh
hasil sebagai berikut.
Tabel 5.3 Perbedaan
motivasi lansia sebelum dan sesudah di berikan pendidikan kesehatan tentang
manfaat posyandu lansia di Desa Jatijajar Kabupaten Semarang.
Variabel
|
N
|
Mean Rank
|
Z
|
p value
|
Motivasi Pretest -
Motivasi Posttest
|
89
89
|
22,15
20,00
|
-5,508
|
0,000
|
Hasil analisis data dari Tabel 5.3 menunjukan
bahwa p value = 0,000≤α = 0,05, maka
Ha diterima dan Ho ditolak, ada
perbedaan yang signifikan antara motivasi lansia
sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan tentang manfaat posyandu
lansia di Desa Jatijajar Kabupaten Semarang.
D.
Kesimpulan dan saran
Motivasi lansia sebelum diberikan pendidikan kesehatan
dalam kategori rendah, yaitu sejumlah 48 responden (53,9%), 19 responden dalam kategori sedang (21,3%)
dan kategori tinggi sebanyak 22 responden (24,7%), pada dasarnya lansia sesudah
diberikan pendidikan kesehatan dalam kategori tinggi, yaitu sejumlah 25 responden
(28,1%), 54 responden mempunyai motivasi dalam kategori sedang (60,7%) dan responden dengan kategori rendah sebanyak 10
(11,2%)
|
|
|
|
E.
Ucapan
Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih
kepada ketua RT Desa Jatijajar Kabupaten Semarang.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga Desa
Jatijajar Kabupaten Semarang atas dukungannya pada penelitian ini.
DAFTAR
PUSTAKA
1.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar